BLORA, topdetiknews.com – Fakta unik terungkap dalam acara Halalbihalal Paguyuban Keluarga Ngayogyakarta di Aula Wisata Noyo Gimbal, Blora, Sabtu (11/4/2026). Ratusan perantau asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ternyata memiliki sejarah migrasi yang kuat, bahkan hingga memenuhi satu desa di Kabupaten Blora.
Ketua Panitia Pelaksana, Gundala Winjasena, mengungkapkan bahwa warga asal Gunungkidul pernah melakukan migrasi besar-besaran di masa lalu. “Bahkan dulu ada yang migrasi ke Blora satu kampung dari Gunungkidul. Sekarang semuanya berdomisili di Desa Plantungan, Blora,” jelasnya.
Saat ini, warga asal DIY yang menetap di Blora berasal dari lima kabupaten/kota, yakni Kulon Progo, Gunungkidul, Sleman, Kota Yogyakarta, hingga Bantul. Paguyuban ini menjadi wadah silaturahmi bagi mereka yang kini menganggap Blora sebagai tanah kelahiran kedua.
Sinergi Membangun Blora
Bupati Blora, Arief Rohman, memberikan apresiasi tinggi atas peran aktif warga keturunan Yogyakarta di berbagai sektor profesi. Ia menilai kontribusi tersebut menjadi salah satu kunci kemajuan pembangunan di Bumi Mustika.
“Di profesi apa pun, sumbangsih Bapak dan Ibu semua tentu telah membantu Blora. Kami ingin kehadiran masyarakat Yogyakarta bisa terus berjalan beriringan dengan pemerintah,” ungkap Bupati yang akrab disapa Mas Arief tersebut.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga bersikap terbuka mengenai tantangan infrastruktur jalan yang masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Ia memohon maaf atas pengerjaan yang belum tuntas sepenuhnya dan menegaskan upaya percepatan terus dilakukan.
PR Pembangunan Daerah
Bupati mengakui bahwa pemerintah daerah masih memiliki banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan. Namun, sinergi antara Yogyakarta dan Blora yang sudah terjalin luar biasa diharapkan dapat memperingan beban pembangunan tersebut.
“Terima kasih juga atas bantuan dari pemerintah pusat yang sangat membantu kami di daerah. Kami terus berupaya memberikan yang terbaik,” tambah Mas Arief.
Acara ini ditutup dengan suasana hangat yang mempererat ikatan persaudaraan antarperantau. Kehadiran paguyuban ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang melepas rindu, tetapi juga menjadi kekuatan pendorong pembangunan daerah sesuai keahlian masing-masing anggotanya.






