Ketika Ustadz Semar Berdakwah

oleh -
Illustrasi || Istimewa

Oleh : Ki Daryanto

” SEMAR, sosok  perpaduan rakyat kecil sekaligus Dewa Kahyangan, penuh dengan semangat ketika didaulat oleh Puntadewa untuk tampil sebagai penceramah. Banyak hal yang disampaikan, apalagi belakangan ini ada sedikit “kisruh” dan viral  di Amarta, terkait Puntadewa berencana hutang untuk membangun jalan yang memang sudah sangat diinginkan sekali oleh seluruh rakyat Amarta. ”

ADA kepiawaian baru yang ditunjukan Semar akhir-akhir ini. Yakni sebagai seorang ustadz yang gemar berdakwah. Karena kepiawaiannya itu, di Hari Wayang Nasional, Semar diminta oleh juragannya, raja Amarta, Puntadewa, untuk memberi wejangan kepada seluruh warga Amarta.

Semar, sosok  perpaduan rakyat kecil sekaligus Dewa Kahyangan, penuh dengan semangat ketika didaulat oleh Puntadewa untuk tampil sebagai penceramah. Banyak hal yang disampaikan, apalagi belakangan ini ada sedikit “kisruhdan viral  di Amarta, terkait Puntadewa berencana hutang untuk membangun jalan yang memang sudah sangat diinginkan sekali oleh seluruh rakyat Amarta.

Tak ingin harus menyinggung siapapun, Kyai Semar mengawali dakwahnya tentang hukum utang piutang. Dikatakan, bahwa hutang itu dibolehkan, dengan catatan jelas peruntukannya, dan mengukur kemampuan, apakah kira-kira mampu membayar jika memang harus hutang.

Sampai disini Petruk, yang notabene anak Semar yang saat pengajian dalam rangka hari Wayang di Amarta duduk di baris paling depan, langsung tunjuk jari dan mengajukan pertanyaan.

‘’Ijin Rama Kyai Semar, sebagai warga yang baik, seharusnya bagaimana menyikapi rencana juragan Puntadewa yang akan hutang untuk membangun jalan di Amarta yang memang banyak dalam kondisi rusak,’’ tanya Petruk  anak ke dua dari Semar.

Tidak langsung menjawab di pokok persoalan, di hadapan banyak juragan ( Pandawa) dan ribuaan warga Amarta, Semar menjelaskan, bahwa hutang yang dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Qardh, secara etimologi artinya adalah memotong, juragan Amarta menempuh cara itu karena dasarnya kasih sayang kepada siapa pun yang membutuhkan dan dimanfaatkan dengan benar – dalam hal ini untuk membangun jalan demi kemakmuran rakyat.

Baca Juga :  Titen Tipak Moh Rembug Manis

‘’Untuk itu sebaiknya siapapun, baik kalangan pejabat maupun rakyat biasa yang mempunyai berbagai profesi, Ojo Dumeh untuk menanggapi rencana Raja Amarta hutang lantaran untuk membangun jalan demi kemakmuran rakyatnya, ’’ papar Semar.

‘’Maksudnya Yi Semar ?” Tanya Petruk penasaran.

Dengan kepala dingin Semar mengatakan, Ojo Dumeh pinter lantas tumindake keblinger. Arti bebasnya, jangan mentang-mentang pandai dan mempunyai pengalaman, maka tindak tanduknya menyimpang dari etika yang ada, lantas membuat opini yang  tidak seharusnya.

Jangan sok atau jangan mentang-mentang, sewenang-wenang, mementingkan diri sendiri, lupa diri, mabuk kekuasaan atau kondisi kejiwaan lainnya yang kurang baik. ‘’Karena dalam budaya Jawa hendaknya kita menghindari sikap  Ojo Dumeh di lingkungan kita,’’  tutur Semar.

Ungkapan tersebut, mengisyaratkan bahwa orang-orang Jawa diajarkan untuk menghindari kesombongan yang merupakan salah satu sifat utama syetan. Bukankah karena sombong maka setan tidak mau diajak sujud/ hormat kepada Adam a.s yang diciptakan dari tanah. Syetan merasa lebih baik/ lebih mulia karena diciptakan dari api.

Sifat sombong, lanjutnya, juga merupakan pintu masuk seseorang memandang rendah orang lain, dan lupa bahwa kehidupan laksana roda berputar. Ada kalanya diatas, kadang di samping, sekali waktu ada di bawah. Perputaran kehidupan seharusnya mengajarkan manusia untuk bisa menghargai sesamanya. Pada dasarnya tidak ada seorangpun yang bisa hidup sendiri.

Kukuh

Sementara tanya jawab antara Petruk Semar terus berjalan, begitu usai sesion tanya jawab, sebagai Raja Amarta, Puntadewa tetap kukuh dengan rencananya, dan berharap semua pihak memaklumi serta mendukung, bahwa apa yang sedang diupayakan itu (hutang) semata-mata  untuk memakmurkan negaranya.

Diakhir acara pengajian, ketika didaulat untuk memberi pencerahan,  Raja Puntadewa panjang lebar menjelaskan tentang kondisi jalan di kerajaannya. Dikatakan, untuk membangun jalan rusak di Amarta dibutuhkan dana sekitar Rp 2,1 Triliun. Pihaknya telah mengupayakan untuk mewujudkan pembangunan jalan rusak itu dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan hutang ke perbankan.

Baca Juga :  Baznas Blora Bantu "Rehab" Rumah Kakek Sebatang Kara

Dikemukakan pula, panjang jalan di Blora yang dalam kondisi rusak mencapai 430 Km, untuk membangunnya, kalau rata-rata  per km membutuhkan dana Rp 5 Miliar, sehingga dibutuhkan dana sekitar Rp 2,1 Triliun untuk membangunnya. 

Untuk mempercepat pembangunannya  alternatif akhir adalah dengan mengajukan hutang daerah sebesar Rp. 250 Milyar. Itu semua dilakukan lantaran tingginya ekspektasi masyarakat yang menginginkan perbaikan infrastruktur jalan. ‘’Dikarenakan anggaran kita memang tidak mencukupi untuk tahun 2022 nanti dalam konteks segera mewujudkan keinginan masyarakat dalam hal pembangunan infrastruktur jalan,” ungkap

Menurutnya, sebelum memutuskan untuk hutang, pihaknya telah mengupayakan pencarian dana, baik dari Pemerintah Pusat dan maupun Pemprov menemui jalan buntu. Bahkan akibat masih adanya pageblug  Covid 19, DAU yang diterima Blora ada kecenderungan penurunan.

‘’Skema hutang itu pada prinsipnya adalah pemampatan anggaran infrastruktur untuk tahun 2023 dan 2024, dimana akan dilaksanakan sekaligus di tahun 2022. Dan caranya adalah dengan hutang. Hitung-hitungannya, bila anggaran pembangunan jalan per tahun antara Rp 80 – 100 Miliar, maka secara fiskal Pemkab Blora ke depan mampu membayar hutang daerah, tanpa harus membebani rakyat dari PAD,’’ jelas  Puntadewa.

Pengajian dalam rangka memperingati Hari Wayang itu pun akhirnya usai. Para warga yag hadir dengan tertib bubar, meski dengan beberapa pertanyaan yang menggelayut dibenaknya. Diantaranya, kenapa para wakil rakyat di Amarta terkesan diam seribu bahasa. Apakah mereka juga tidak ingin menjadi korban ditekan atau diserang oleh orang atau kelompok tertentu ya ?  (Tancep Kayon)

No More Posts Available.

No more pages to load.