Keculasan Sengkuni Bikin Kehormatan di Astina Perlahan Mati

oleh
oleh

” Di Kerajaan Astina, sistem purnatugas hanyalah formalitas di atas kertas prasasti. Kekuasaan tidak pernah benar-benar diserahkan, melainkan hanya berganti bentuk menjadi jabatan penasihat khayalan dengan fasilitas gaji yang tetap mengalir deras. Namun, yang membuat pusing Duryudana bukan sekadar honor yang harus dianggarkan, melainkan tabiat lama Sengkuni yang tak pernah padam. Kegemarannya menjalin “perselingkuhan birokrasi” dengan seorang stafnya yang sebenarnya terbilang tidak muda lagi. ”

DI bawah naungan Balairung Kerajaan Astina yang megah, aroma kemenyan membumbung tinggi, menyamarkan bau busuk tirani dan nepotisme yang telah lama mengendap di bawah karpet kekuasaan. Raja Duryudana duduk di atas takhtanya dengan pelipis yang terus memijat kepala. Mahkotanya terasa kian berat—bukan karena kemuliaan tugas memimpin rakyat, melainkan karena kebingungan menanggung beban moral para birokrat gaek di sekelilingnya.

Di hadapannya, duduk Patih Sengkuni. Meski rambutnya telah memutih, namun tetap tampak hitam mengkilap berkat semiran di salon terkenal yang ada di Astina, dan jabatan resminya sebagai penguasa birokrasi Astina sudah kadaluwarsa, Sengkuni tidak pernah benar-benar pergi.

Di Astina, sistem purnatugas hanyalah formalitas di atas kertas prasasti. Kekuasaan tidak pernah benar-benar diserahkan, melainkan hanya berganti bentuk menjadi jabatan penasihat khayalan dengan fasilitas gaji yang tetap mengalir deras.

Namun, yang membuat pusing Duryudana bukan sekadar anggaran penasihat yang menguras kas negara, melainkan tabiat lama Sengkuni yang tak pernah padam. Kegemarannya menjalin “perselingkuhan birokrasi” dengan seorang stafnya yang sebenarnya terbilang tidak muda lagi.

Ini semakin membuktikan, yang namanya asmara itu tidak menganal usia, dan jabatan. Perselingkuhan disini bukan sekadar persekongkolan gelap di ruang-ruang rapat tertutup, melainkan syahwat biologis dan perzinahan nyata dengan barter jabatan serta manipulasi kebijakan demi keuntungan pribadi.

Sengkuni sadar, untuk mempertahankan cengkeraman kekuasaannya meski sudah pensiun, ia butuh bidak pelayan yang haus jabatan. Di sinilah hadir Jembolowati, seorang staf ambisius di dinas administrasi Kerajaan Astina yang paham betul cara memutar roda kekuasaan Astina.

Bagi sang staf, hubungan gelap ini ibarat bertepuk dua tangan. Tidak ada korban yang teraniaya. Yang ada hanyalah transaksi saling menguntungkan. Sengkuni mendapatkan pemuas ego biologis serta perpanjangan tangan untuk mendikte kebijakan, sementara sang staf mengincar kursi paling basah di Kerajaan Astina, yakni Menteri Keuangan.

“Paman Sengkuni,” ujar Duryudana suatu hari dengan suara berat, memecah keheningan balairung.

“Rakyat di luar sana sudah gempar. Bisik-bisik warga bukan lagi sekadar rumor abstrak, Paman. Beberapa jelata bahkan mengaku memergoki Paman sendiri!”

Duryudana mengusap wajahnya yang pucat, lalu menunjuk ke arah sekumpulan abdi pelayan yang gemetar di sudut balairung.

Baca Juga :  Pengamat Politik Prof. Dr. Bagong : Lihat Tengkuk Orang Lain Lebih Mudah Daripada Lihat Tengkuk Sendiri

“Tanya saja pada beberapa rakyat di Astina!” lanjut Duryudana dengan nada tertahan.

“Malam itu, saat mereka bertugas membawa barang kerajaan ke wisma peristirahatan megah di pinggiran Astina, hotel berbintang emas yang disewakan dengan anggaran dinas, mereka melihat dengan mata kepala sendiri. Paman keluar dari kamar suite bersama seorang dengan pakaian setengah terlepas.

Kata wayang yang menjadi saksi mata itu, wajah Paman berbinar-binar, sementara sang staf sibuk merapikan berkas di atas ranjang yang berantakan!” Duryudana menatap Sengkuni yang masih bergemuruh dengan keangkuhannya.

“Paman tahu apa dampaknya?” tambah Duryudana. “Rakyat itu sampai ketakutan setengah mati! Mereka menyaksikan pemandangan gelora asmara itu hingga trauma berat. Berhari-hari mereka tidak bisa tidur, terbayang-bayang betapa menakutkannya monster kekuasaan tua yang sedang melalap masa depan negeri ini di balik selimut hotel. Setiap kali memejamkan mata, mereka melihat bayangan Paman memangsa kehormatan tata negara dan kehormatan tubuh staf sendiri. Rakyat ketakutan, Paman! Mereka takut kualat dan jijik melihat betapa busuknya moral pimpinan mereka. Lebih-lebih takut kalau Astina diadap oleh para Dewa !”

Sengkuni terkekeh pelan, suara khasnya bagai gesekan bambu kering yang menyayat telinga, sama sekali tidak merasa malu atau tersindir.

“Anakku Anak Prabu,” kata Sengkuni sambil membetulkan letak kainnya dengan santai.

“Rakyat kecil seperti mereka memang mudah kaget. Mereka melihat kamar hotel hanya sebagai tempat maksiat, padahal bagi kita, itu adalah ruang negosiasi strategis. Mengapa harus takut tidak bisa tidur hanya karena melihat kenyataan hidup? Rakyat itu seperti domba. Mereka hanya tahu berteriak soal moralitas dan etika di pasar-pasar, tapi tidak paham rumitnya mengelola tata negara. Perselingkuhan di hotel itu bukan kejahatan, Anak Prabu, melainkan strategi keberlanjutan. Staf wanita itu punya ambisi, dan saya punya akses. Jika dia saya jadikan Menteri Keuangan, kas negara akan aman di bawah kendali kita. Lagipula, siapa lagi yang bisa Anak Prabu andalkan untuk membenahi birokrasi Astina yang carut-marut ini kalau bukan pengalaman tua saya?”

Duryudana menghela napas panjang. Di situlah letak simpul matinya. Astina sedang krisis. Sistem birokrasi kerajaan sudah begitu rusak, penuh dengan utang, dan tidak efisien. Duryudana, yang dasarnya lemah dalam hal penataan administrasi dan ekonomi, sangat bergantung pada keahlian busuk Sengkuni. Tanpa racikan muslihat Sengkuni, Astina bisa runtuh sebelum Perang Baratayuda dimulai.

Namun, harga dari ketergantungan itu sangat mahal. Duryudana harus menutup mata rapat-rapat saat melihat bagaimana kriteria pengangkatan pejabat publik di Astina tidak lagi didasarkan pada rekam jejak, kapabilitas, atau integritas, melainkan pada seberapa jauh seseorang bersedia melayani syahwat sang pejabat di kamar hotel.

Baca Juga :  Rokok Klobot Kopine Kapal Api, Rasah Dipikir Abot Wong Mesti ASRI

Suatu pagi, di sudut lain balairung, sang staf ambisius berdiri anggun dengan senyum simpul. Ia tidak peduli disumpahi rakyat, tidak peduli dengan trauama para abdi yang memergokinya, dan tidak peduli menjadi buah bibir para resi. Di negeri di mana meritokrasi telah mati dan dimakamkan tanpa upacara, kesetiaan pada penguasa, termasuk menyerahkan tubuh dan harga diri di ranjang hotel, adalah jalan pintas paling rasional menuju puncak karier.

Mengapa harus merangkak dari bawah puluhan tahun jika cukup dengan memanjakan ego sang mantan penguasa, kursi Menteri Keuangan sudah bisa digenggam?

“Anak Prabu,” lanjut Sengkuni dengan nada berbisik yang memikat, “Dukunglah pengangkatan calon Menteri Keuangan pilihan Paman ini. Jangan hiraukan suara-suara sumbang atau igauan orang-orang penakut yang tidak bisa tidur itu. Etika itu fleksibel, Anak Prabu. Yang abadi adalah kekuasaan dan keteraturan yang kita ciptakan.”

Duryudana menatap langit-langit balairung yang dihiasi ukiran emas. Dia berada di persimpangan jalan yang tragis. Di satu sisi, dia butuh otak Sengkuni untuk menjaga roda pemerintahan tetap berputar. Di sisi lain, menuruti kemauan Sengkuni berarti mengesahkan sistem nepotisme moral paling buruk dalam sejarah Astina. Termasuk menjadikan lembaga keuangan negara sebagai hadiah dari skandal perselingkuhan birokrasi di hotel-hotel mewah.

Dengan tangan gemetar dan mata dipejamkan, Sang Raja akhirnya mengangguk pelan. Sebuah keputusan yang tidak lahir dari keberanian.

Di luar istana, angin bertiup kencang membawa debu-debu jalanan. Rakyat Astina terus membayar pajak yang kian mencekik dan terjaga dalam kebingungan, sementara para abdi yang menjadi saksi mata masih gemetar tak bisa tidur terbayang skandal tersebut.

Mereka sadar bahwa pundi-pundi emas negara kelak akan dikelola oleh seorang Menteri Keuangan yang jabatannya dibeli bukan dengan keringat kepandaian, melainkan dari hasil kompromi gelap di balik selimut hotel bersama sang pensiunan. Dan di dalam balairung, Sengkuni tersenyum puas, membuktikan bahwa di Astina, kebiasaan buruk tidak pernah benar-benar pensiun, Melainkan, ia hanya berganti nama menjadi “Kearifan Lokal Birokrasi”. ***

Tinggalkan Balasan