Menelisik Biang Kerok “Runtuhnya” BUMD Astina

oleh
oleh

” DIBALIK riuhnya panggung depan di celah reruntuhan rusaknya BUMD di Kerajaan Astina, dan pekatnya asap kemenyan, ada satu sosok yang kerap melangkah anggun tanpa noda, bersembunyi rapi di balik lipatan kain batik Parang Rusak dan tirai kedhaton yang megah. Dialah Patih Sangkuni sebagai puncak pimpinan birokrasi kerajaan, sang konduktor utama yang mengorkestrasi aliran emas rakyat di seluruh Kerajaan Astina dari Kas Kerajaan menuju “lubang hitam” bernama BUMD. ”

KETIKA Taman Usaha ( sejumlah BUMD) Kedhaton di Kerajaan Astina berdarah-darah, memikul utang bertumpuk, atau nyaris runtuh menjadi abu, panggung kelir Pakeliran di Negara itu mendadak riuh. Tabuhan genderang bergemuruh, dan jemari para ksatria sibuk menunjuk ke pelbagai arah.

Ada yang menuding Patih Nayaka Operasional (Direksi) yang dianggap tak becus mengemudikan kereta bisnis, Dewan Parembagan (Dewan Pengawas) yang dinilai sekadar “makan upeti tanpa kerja”, hingga sang pimpinan tertinggi, Prabu Duryudana yang dituduh menjadikan BUMD di Astina sebagai sapi perahan demi ambisi tahta.

Hanya …. jangan lupa, sebenarnya dibalik riuhnya panggung depan dan pekatnya asap kemenyan, ada satu sosok yang kerap melangkah anggun tanpa noda, bersembunyi rapi di balik lipatan kain batik Parang Rusak dan tirai kedhaton yang megah.

Dialah Patih Sangkuni sebagai puncak pimpinan birokrasi kerajaan, sang konduktor utama yang mengorkestrasi aliran emas rakyat di seluruh Kerajaan Astina dari Kas Kerajaan menuju “lubang hitam” bernama BUMD.

Memang benar, tata kelola BUMD di Astina digerakkan oleh tatanan organ, mulai para Nayaka sebagai juru mudi operasional, Dewan Parembagan sebagai pengerem, dan Prabu Duryudana selaku Pemegang Hak Pemodal Tunggal. Tak ketinggalan, para Bebanten Bale Katandhan (wakil dari rakyat Astina) yang rajin berteriak dari balik tembok istana.

Namun, menyerahkan seluruh dosa amburadulnya sejumlah BUMD di Astina hanya kepada mereka adalah bentuk penyederhanaan yang kelewat naif. Atau mungkin, bentuk kesengajaan agar sang Maestro Birokrasi Istana tetap aman bersolek sembari menikmati sirih.

Mari kita kuliti bagaimana Patih Sangkuni memainkan peran sarat tipu muslihatnya dalam melodrama kehancuran Taman Usaha Kedhaton ini.

Sejumlah BUMD di Astina yang sakit kronis punya kebiasaan unik, yakni selalu haus suntikan modal dari Kas Kerajaan. Meski ada juga yang enggan menerima suntikan karena takut ada pamrih dari oknum tokoh wayang dibalik suntikan modal itu.

Uniknya lagi, birokrasi Astina sangat dermawan. Walau saban Sasi sejumlah lembaga BUMD menyetor kerugian, proposal “Penyertaan Modal Upeti” selalu meluncur mulus bagaikan panah Pasopati tanpa hambatan.

Di sinilah peran luhur Patih Sangkuni selaku Ketua Tim Anggaran Kerajaan di Kerajaan Astina. Sang Patih adalah penjaga gawang bendahara negeri. Dialah yang menimbang, menguji, dan membubuhi stempel kerajaan apakah proposal sejumlah BUMD di kerajaanya Amarta itu benar-benar menguntungkan (feasible) atau sekadar ilusi para penyair sarat tipu daya.

Baca Juga :  Kunjungan ke Calhaj Dibatasi Hingga H-10 Jelang Pemberangkatan  ? (11)

Ketika ribuan keping emas milik wayang jelata terus digelontorkan ke sejumlah BUMD yang tak pernah menyetor deviden sepeser pun, kita patut bertanya dengan nada penuh kagum, apakah sensitivitas batin dan kecerdasan analisis seperti apa yang dimiliki Patih Sangkuni?

Apakah sang Patih sengaja menutup mata terhadap Lontar Keuangan yang merah membara, ataukah beliau memang begitu murah hati membagikan emas wayang jelata untuk membiayai eksperimen bisnis yang gagal berkali-kali?

Menandatangani persetujuan keping emas untuk lembaga yang terbukti bobrok bukanlah sekadar khilaf administrasi, melainkan bentuk kelalaian sistemik yang dipelihara secara sadar di balik tembok balai kota.

Di bawah kibatan sampur Patih Sangkuni, terdapat Gedhong Parasraya Ekonomi yang bertugas membina sejumlah BUMD secara administratif. Secara teori, unit ini harusnya menjadi Seni Kunci Pertanda (early warning system) jika ada aroma salah urus di dalam perusahaan kerajaan.

Namun dalam praktiknya, fungsi pembinaan ini berubah menjadi sekadar rutinitas stempel lontar. Laporan keuangan yang berantakan, tata kelola yang jauh dari nilai-nilai Hastha Brata (Good Corporate Governance), hingga operasional yang ugal-ugalan, ditumpuk rapi di meja birokrasi tanpa ada tindakan korektif yang nyata.

Patih Sangkuni, selaku komandan tertinggi birokrasi di Astina seolah cukup puas menerima laporan formalitas di atas daun lontar berkop stempel kerajaan. Pembinaan pun bergeser makna: bukan dibina agar BUMD sehat dan menghasilkan emas, melainkan “dibina” agar kebobrokannya tidak gaduh hingga terdengar ke telinga para resi dan rakyat di pasar-pasar.

Ada sebuah pertanyaan, jika sebuah candi roboh, jangan hanya menyalahkan angin barat; salahkanlah mereka yang memilih batu fondasinya. Begitu pula dengan BUMD milik Kerajaan. Direksi yang kompeten lahir dari proses penyaringan yang jujur dan terang benderang.

Sayangnya, BUMD seringkali dipimpin oleh figur-figur yang jangankan paham Tantra Bisnis, membaca lontar laba-rugi saja mungkin harus mengernyitkan dahi berkali-kali sembari meminta bantuan juru tulis.

Pertanyaannya, siapakah arsitek di balik hadirnya para pimpinan BUMD di Astina yang “ajaib” ini? Jawabannya kembali bermuara pada Patih Sangkuni, yang hampir selalu ditunjuk sebagai Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Direksi dan Dewan Pengawas BUMD di kerajaan itu.

Jika BUMD di sebuah kerajaan amburadul karena dipimpin oleh jajaran manajerial yang dipilih “keliru”, maka atas Patih Sangkuni tidak bisa cuci tangan begitu saja sambil tertawa terkekeh.

Dialah penyaring utamanya. Bila saringan itu dengan sengaja dibuat bolong agar figur tak berkualitas bisa lolos, maka Sang Patih adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas kehancuran BUMD milik kerajaan sejak dari hulu mata airnya.

Baca Juga :  Pandhawa Galau

Sempurnalah sudah komedi pewayangan ini ketika Patih Sangkuni juga merangkap jabatan sebagai Dewan Parembagan (Komisaris) secara ex-officio di BUMD. Jabatan ini tidak hanya membawa konsekuensi kewenangan, tetapi juga limpahan kantong emas bulanan yang tentu tidak sedikit.

Namun, alih-alih menjadi pengawas yang kritis dan galak bagaikan Resi Bhisma demi menyelamatkan aset kerajaan, posisi ex-officio ini kerap terjebak menjadi ajang formalitas dan pembiaran.

Bagaimana mungkin seorang Patih yang menjabat Dewan Pengawas tidak tahu jika lembaga yang diawasi sedang terjun bebas ke jurang kebangkrutan?

Jika beliau tahu tapi diam, itu adalah kejahatan pembiaran yang nyata. Jika beliau tidak tahu, lantas untuk apa kantong emas pengawasan itu dicairkan dari kas kerajaan setiap bulan? Apakah sekadar untuk pundi-pundi pribadi sang Patih?

Dalam peta pembagian dosa hancurnya sebuah BUMD di sebuah kerajaan, Para Nayaka Operasional memang bersalah atas keputusan bisnis yang ngawur dan kerugian harian, Prabu Duryudana bertanggung jawab atas syahwat politik dan kebijakan tertinggi, Namun Patih Sangkuni adalah pemegang kunci utama dari kegagalan sistemik birokrasi kerajaan.

Patih Sangkuni adalah benteng terakhir yang memastikan emas Kerajaan dikelola dengan benar secara administratif dan kelayakan. Ketika sang Patih gagal menyeleksi SDM yang tepat, gagal menganalisis kelayakan penyertaan modal, dan gagal melayangkan evaluasi korektif, maka beliau bukan lagi sekadar penonton yang tak tahu apa-apa di pendopo. Melainkan, beliau adalah dalang di balik layar yang membiarkan kebobrokan itu terjadi.

Sudah saatnya wayang jelata Astina berhenti terkecoh oleh retorika birokrasi yang pandai melempar batu dan sembunyi di balik kebenakan kain kepatihan. Ketika BUMD hancur lebur, jangan hanya panggil para Nayaka ke balai persidangan. Panggil juga Patih Sangkuni ! Minta penjelasan atas setiap lembar lontar persetujuan anggaran dan setiap stempel kelayakan yang telah ditandatanganinya.

Sebab dibalik BUMD yang amburadul, selalu ada birokrasi kepatihan yang sengaja “tertidur lelap” sembari menikmati manisnya tirai kekuasaan. Untuk itu, usut saja tentang kiprah Sengkuni yang selama ini selalu pilih jalur nyaman. Termasuk usut adanya kabar, bahwa konon Sengkuni dengan segala kelicikannya berupaya melanggengkan asmara penuh dosa. ***

Tinggalkan Balasan