Petuah Keramat Prabu Kresna Untuk Srikandi

oleh -139 Dilihat
oleh
Harjuna dan Srikandi : Istimewa

Oleh : Daryanto

” INI nasehat penting dari Kresna untuk Srikandi yang akan menjadi sosok pemimpin. ”Masalah kamu mau protes kepada Sang Pencipta itu hakmu, Srikandi. Hanya saja ingat nasehat Uwak, bahwa Sang Pencipta pasti akan memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya. Hanya kadangkala sebagai titah wayang, sering tidak menerimakan pemberian terbaik dari Sang Pencipta itu, ” ungkapnya. ”

SELURUH jajaran Pandawa, Puntadewa, Werkudara, Harjuna, Nakula dan Sadewa terbawa suasana haru. Bahkan Puntadewa yang paling kelihatan begitu haru hingga tanpa dia sadari lelehan air mata terus mengalir di pipinya. Suasa nyesek, haru itu terjadi ketika Srikandi yang putri kedua Prabu Drupada, raja Pancala dengan permaisuri Dewi Gandawati itu, sowan ke Prabu Kresna untuk minta nasehat.

Srikandi memang sengaja minta diantarkan oleh para Pandawa sowan ke Prabu Kresna, menyusul, sosok wayang perempuan yang sejak kecil gemar dalam olah keprajuritan itu dicalonkan menjadi pemimpin di Negara Amarta II, sub domain dari Negara Amarta.

” Sebenarnya saya malu, sudah berumur Uwak Kresna. Kenapa takdir saya harus begini. Di usia yang terbilang tua untuk ukuran perempuan memegang tampuk pemerintahan. Berarti saya harus ngemong sana sini dan harus ikut memikirkan kesejahteraan rakyat hingga di pedesaan,” ungkap Srikandi sambil sungkem ke Raja Dwarawati itu.

”Ketahuilah “anakku” Srikandi. Hidup ini sudah ada yang mengatur. Tidak ada satupun wayang, baik itu tokoh maupun wayang biasa yang mampu untuk merubah takdir-Nya,” petuah Kresna setelah diam sejenak mendengar curhatan hati Srikandi.

” Kamu juga nggak pernah membayangkan khan, jika berjodoh dengan Harjuna. Semua itu terjadi ketika kamu berguru ilmu memanah dengan Harjuna hingga akhirnya jodoh itu tidak bisa kamu pungkiri?”

”Begini Uwak. Kalau boleh memilih saya akan mengajukan protes kepada Dewa, agar takdirku tidak menjadi pemimpin sebuah negara. Tiap malam hamba akan terus Tahajud, mengiba kepada Yang Maha Pencipta,” Srikandi tetap wangkot dengan nasehat Kresna. Dia mengatakan, bukankah konon takdir masih bisa berubah manakala sang penerima takdir mau berdoa dan berbuat kebaikan dengan sesama.

”Masalah kamu mau protes kepada Sang Pencipta itu hakmu, Srikandi. Hanya saja ingat nasehat Uwak, bahwa Sang Pencipta pasti akan memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya. Hanya kadangkala sebagai titah wayang, sering tidak menerimakan pemberian terbaik dari Sang Pencipta itu.”

” Ini benar-benar cobaan Uwak bagi saya dan keluarga. Sekali lagi apakah saya mampu menjalankan amanah ini ?”

” Kamu tampaknya sudah lupa, bahwa Sang Pencipta tidak akan memberi cobaan kepada umatnya yang melebihi kemampuan umat tersebut ?”

Sampai disini Srikandi diam seribu bahasa. Lamunannya terbang, terbawa akan cerita wayang pakem, dimana dirinya sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dia paham betul bahwa disaat perang Baratayuda dirinya menjadi senopati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, satria Wirata yang telah gugur melawan Resi Bisma, seorang senopati agung Kurawa.

Baca Juga :  Formasi Kursi DPRD Blora di Pileg 2024 Berubah Kah ?

” Saya benar-benar bangga sebenarnya Uwak Kresna, saat menjadi senopati perang, waktu itu dengan panah Hrusangkali andalan saya, dapat membunuh Resi Bisma,” ujar Srikandi memecah keheningan. ”Hanya, sekali lagi Uwak, apakah saya mampu jika nanti ikut ngatur pemerintahan. Kalaupun memang saya tidak bisa lari dari takdir, nantinya saya harus bagaimana , Uwak?”

Madep mantep. Bahwa semua lakon di Negara Amarta II sudah kehendakNya. Hanya kalau boleh, sebagai orang tua saya titip pesan !”

” Dengan senang hati Uwak Kresna. Karena itu yang benar-benar saya harapkan,” Jawab Srikandi sambil kembali sungkem ke Kresna.

Pertama, demikian Kresna mulai sampaikan pesan kepada Srikandi, sosok yang terkenal paling tidak suka berdiam diri di dalam istana. Berjiwa petualang sehingga menjadikannya salah satu sosok yang masuk golongan ksatria wanita. Kelak jika takdir dari Sang Pencipta sudah terwujud, Srikandi dilantik menjadi Wakil Raja di Amarta II, tetap andhap asor dan jauh dari sikap adigang, adigung adiguno.

” Implikasinya di kehidupan sehari-hari apa Uwak Kresna ?”

” Tanamkan di jiwa kamu, bahwa mendapat amanah harus ikhlas sebagai sarana ibadahmu. Hormati Rajamu ! Berdiskusilah dalam menjalankan pemerintahan bersama Raja. Jauhkan sifat Rumangsa Bisa – melainkan justru pegang teguh sikap Bisa Rumangsa. ”

Selain itu, Kresna melanjutkan petuahnya. Melandasi bahwa jabatan adalah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di kehidupan setelah di dunia, jangan sekali-sekali beranggapan bahwa seseorang mempunyai kuasa. Karena sampai hal itu dilakukan, kelak pasti diri seseorang itu akan didominasi nafsu serakah.

”Untuk rejeki bagaimana Uwak Kresna. Maaf ini saya beranikan bertanya supaya semuanya jelas, dan akan saya jadikan pegangan kelak kalau saya sudah menjabat ? ” Srikandi terus merangsek dengan pertanyaannya.

” Kamu harus ingat, bahwa di dunia ini ada beberapa hal yang sudah di atur dari Yang Maha Pencipta. Lebih-lebih soal rejeki, jodoh, tibane pati. Bejo, cilaka, sebagai wayang tidak bisa lari dari takdir yang sudah ditentukan. Seperti yang saya katakan awal, bahwa kamu akan menjadi Wakil Raja itu juga sudah kehendak-Nya. ”

” Tetapi saya khan juga dari kalangan Wayang Uwak. Artinya saya juga masih mempunyai nafsu dan lain-lain. Belum lagi saya juga mempunyai kelompok yang harus saya pikirkan dari banyak hal?”

” Wajar Srikandi. Cuman ingat, jangan sampai nafsumu itu kelak akan mengorbankan kepentingan seluruh rakyat wayang yang ada di Kerajaan Amarta II. Ini harus benar-benar kamu camkan !”

Baca Juga :  Semoga Blora Semakin Aduhai, Semampai, Representatif dan Indah (ASRI)

” Baik Uwak Kresna, sendiko dawuh. Hanya saya mohon, kelak Uwak Kresna juga terus mengawal saya. Kalau saya keliru juga segera diingatkan, supaya tidak berakibat fatal,” Srikandi sungkem pungkasan, untuk pamit undur diri lantaran harus menyelesaikan banyak hal urusan.

” Baiklah Srikandi. Ingat, dukung Rajamu sepenuh hati. Buat dia nyaman sehingga kecerdasan intelektual yang dipunyai Rajamu kelak benar-benar dipraktekkan untuk kemakmuran seluruh rakyat wayang di Amarta II.”

Melihat pemandangan seperti itu, bukan karena Srikandi istrinya, Harjuna merasa bangga dengan apa yang akan dijalani oleh Srikandi kelak. Dia sepakat bahwa, Tuhan pasti akan memutuskan yang terbaik untuk umatnya. Kalaupun Srikandi seolah-olah ada kesan berat saat akan melakoni takdirnya, Harjuna juga sepakat bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan hidup diluar kemampuan hambanya.

”SubhanAllah,” ujar Harjuna lirih. Dalam hati dia mulai membenarkan sudah sewajarnya jika istrinya, Srikandi pantas untuk mendapat gelar sosok wayang Ksatria Wanita di jamannya.

Hal itu didasari fakta yang ada, saat jaman wayang konvensional, karena keberanian yang dimiliki Srikandi sehingga dia ditunjuk menjadi Panglima saat perang Bharatayudha. Waktu itu Srikandi harus berhadapan langsung dengan Bisma yang saat itu menjadi Senapati Perang Kurawa yang sangat sakti.

Sebagai Panglima Perang, Srikandi menjalankan tugasnya dengan baik dan mampu membuat tubuh Bisma jatuh berbalut panah Hrusangkali yang ditembakkan Srikandi. Ia menjadi sosok anomali dalam kisah perang puputan antar saudara laki-laki yang memperebutkan tahta Hastinapura.

Keberadaan Srikandi di perang kolosal tersebut menjadi simbol keberanian yang ada dalam diri para wanita. Hal ini diharapkan akan menjadi tauladan bagi para tokoh wayang wanita, yang harus yakin bahwa mampu mengerahkan akal dan tubuh mereka untuk berjuang dan mengambil andil dalam banyak hal. Termasuk yakin akan mampu menjadi pemimpin dengan sikap tegas dan pantang menyerah. ***

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.