Wajah-Wajah di Balik Dapur SPPG Bypass Cepu (1/3)

oleh
Tiga pilar manajemen Dapur SPPG Blora Cepu Cepu 2, Kepala SPPG Sabriyansyah Putra Wardana, Ahli Gizi Cantika Novita Sari, dan Akuntan Muhammad Alif Pratama, saat melakukan koordinasi rutin di Dapur SPPG Bypass Cepu guna memastikan sinergi operasional, kualitas nutrisi, dan akuntabilitas anggaran program Makan Bergizi Gratis berjalan beriringan demi pelayanan terbaik bagi siswa. || Foto: Muji/ topdetiknews.com

Tak Sekadar Mengatur Produksi, Sabriyansyah Putra Wardana Pimpin Operasional Dapur SPPG Bypass Cepu

Memimpin tim sejak dini hari demi layanan makan siswa yang tepat waktu

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berbicara tentang makanan yang tersaji di meja siswa, tetapi juga tentang sistem besar yang bekerja di baliknya. Di Dapur SPPG Blora Cepu Cepu 2 atau Dapur SPPG Bypass Cepu, keberhasilan layanan ini ditopang oleh peran lintas fungsi yang saling terhubung. Melalui seri profil ini, topdetiknews.com mengangkat sosok-sosok di balik operasional dapur yang memastikan layanan berjalan tepat waktu, tepat gizi, dan akuntabel.

BLORA, topdetiknews.com Aktivitas di Dapur SPPG Blora Cepu Cepu 2 atau yang dikenal sebagai Dapur SPPG Bypass Cepu dimulai ketika sebagian besar warga masih terlelap. Di balik ribuan porsi makanan yang harus tersaji tepat waktu untuk siswa, terdapat peran kepemimpinan yang memastikan seluruh proses berjalan tanpa hambatan. Tanggung jawab tersebut diemban oleh Sabriyansyah Putra Wardana selaku Kepala SPPG.

Sebagai pimpinan operasional, Sabriyansyah mengoordinasikan tim lintas fungsi sejak dini hari. Tantangan utama yang dihadapi bukan hanya soal teknis dapur, tetapi juga menjaga kesiapan fisik dan mental tim agar seluruh tahapan produksi hingga distribusi berjalan sesuai jadwal.

Baca Juga :  Wow 16 Lokasi Wisata di Blora Ini Wajib Anda Kunjungi

“Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi disiplin dan fokus tim di jam kerja yang sangat dini, ketika kondisi fisik dan mental belum sepenuhnya prima,” ujar Sabriyansyah.

Ia menegaskan bahwa seluruh aktivitas di dapur memiliki tingkat urgensi waktu yang tinggi karena berkaitan langsung dengan jadwal belajar siswa.

Sabriansyah Putra Wardana, Kepala SPPG Blora Cepu Cepu 2. || Foto: Muji/topdetiknews.com

“Seluruh proses di dapur MBG bersifat time-critical: mulai dari persiapan bahan, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi tidak boleh meleset karena berhubungan langsung dengan jam belajar siswa. Kesalahan kecil di satu titik bisa berdampak ke seluruh rantai layanan,” tegasnya.

Untuk menjaga kinerja tim di bawah tekanan waktu, Sabriyansyah menerapkan sistem kerja yang jelas disertai pendekatan kepemimpinan yang humanis. Pembagian tugas dibuat terstruktur agar setiap personel memahami perannya, sementara kehadiran pimpinan di lapangan menjadi bagian penting dari pengawasan operasional.

“Keteladanan pimpinan, hadir paling awal, terlibat langsung, dan tidak hanya memberi perintah. Komunikasi yang humanis, termasuk apresiasi kecil, briefing singkat namun konsisten, serta evaluasi tanpa menyalahkan. Dengan pendekatan ini, tim merasa dihargai sebagai satu kesatuan misi, bukan sekadar pekerja dapur,” ungkapnya.

Profesionalisme juga ditunjukkan Sabriyansyah dalam menyikapi kendala lapangan, termasuk saat menerima komplain terkait distribusi.

Baca Juga :  Iptu Umbaran Wibowo Imbau Petani Tak Gunakan Jebakan Listrik di Sawah

“Menerima komplain dengan terbuka dan empatik, tanpa defensif. Memberikan klarifikasi resmi dan solusi konkret, evaluasi internal dan perbaikan sistem, agar kejadian tidak berulang. Prinsipnya, komplain bukan untuk diperdebatkan, tetapi menjadi alarm perbaikan layanan,” jelas Sabriyansyah.

Bagi Sabriyansyah, memimpin dapur SPPG adalah bentuk pengabdian yang dijalani sepenuh hati.

“Melayani dengan sepenuh hati tanpa ada rasa beban di hati dengan mengandalkan keteladanan dan kedisiplinan apapun itu dan menjadikan dapur itu sebagai jantung hati yang menyatu dengan jiwa raga saya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan